Awal Kisah
Ketika hidup sudah terasa tak begitu menggembirakan dan tak ada kegiatan yang begitu berarti, diriku hanya ingin mencari suasana baru yang produktif. Ketika otak sudah tak lagi mengeluarkan ide yang unik, yang dapat membuat sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain entah kenapa menulislah salah satu jalan untuk mengatasinya. Banyak sekali unek-unek atau ide tentang kehidupan sehari-hari yang terlintas didalam pikiran namun menguap begitu saja tanpa adanya tindakan yang berarti untuk melaksanakannya.
Diawali dengan cerita tentang keseharianku :
Kegiatan sehari-hari sebagai pegawai negeri yang notabene begitu menjenuhkan, berangkat pagi pukul 07.00 pulang sore pukul 17.00 kerjaan begitu-begitu saja tidak ada yang menarik. Mungkin karena umur masih terbilang muda dan masih adanya keinginan untuk bebas tetapi harus terkekang dengan rutinitas yang terjadwal dan berulang. Kadang melihat teman-teman di media sosial begitu senangnya dengan kegiatan mereka entah itu yang masih kuliah atau sudah berumah tangga membuatku bertanya tentang jalan yang telah diambil, disatu sisi sangat bersyukur karena di zaman sekarang mencari pekerjaan itu susah bahkan dari lulusan perguruan tinggi terkemuka sekalipun, persaingannya sangat ketat. Di sisi lain di dalam hati ingin sekali bergaul, bercanda tawa dengan teman sebaya menceritakan tentang pusingnya tugas yang diberikan dosen atau belajar untuk uts/uas dan obrolan lain seputar remaja lainnya, bukan obrolan tentang rumah tangga, finansial, kerjaan, masalah di Indonesia maupun luar negeri yang menurut diriku terlalu berat untuk obrolan pagi atau di saat makan siang. Perilaku dan otak dipaksa untuk menyesuaikan rekan kerja yang rentang usianya begitu jauh, bisa dibilang dewasa sebelum waktunya. Kalau diumur 20a-an saja sudah diporsir dengan pikiran umur 30-an bagaimana nasib pemikirannku dimasa mendatang. Bahkan sekarang kalau bertemu dengan teman sebaya sudah tidak bisa menyamakan persepsi karena menganggap mereka masih bocah padahal kita masih seumuran. Namun, nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang perlu disesali dalam hidup ketika pilihan tersebut pantas untuk dirimu. Mungkin jalan yang engkau tempuh tidak sesuai dengan apa yang telah dituliskan oleh-Nya. ~ Apa yang engkau anggap pantas olehmu belum tentu dianggap pantas oleh-Nya ~.
Semoga hidup kita senantiasa memberikan manfaat bagi diri kita sendiri maupun orang lain, karena hidup itu sebentar saja maka gunakanlah dengan bijak agar kehidupanmu aman dan tentram. Salam dari penulis yang sedang berhijrah untuk menjadi lebih baik, semoga senantiasa istiqomah berada dijalan yang benar yang diridhoi oleh-Nya.
Komentar
Posting Komentar